Tulangbawang – Mediaintelijen.id – Sebuah komentar pedas dan dianggap sangat tidak berperasaan viral di media sosial, memicu kemarahan warga di Kabupaten Tulangbawang, Lampung. Komentar tersebut diduga dilontarkan oleh seseorang yang mengaku atau dikenal sebagai anak seorang pejabat setempat, terkait kondisi jalan yang sangat memprihatinkan.
Perbincangan panas ini bermula dari postingan akun Facebook bernama Sugianto yang dibagikan di grup jual beli online “Apa Saja Bratasena dan sekitarnya”, pada Selasa (7/4/2026).
Dalam kolom komentar postingan tersebut, muncul sebuah tanggapan yang kini menjadi sorotan publik. Si pengomentar yang disebut-sebut sebagai anak pejabat itu menulis kalimat yang sangat menyakitkan hati warga:
“Kalo susah ya ga usah dilewati, cari aja jalan lain yang lebih oke, gitu aja berisik kawan.”


Kalimat sepele namun penuh kesombongan ini sontak membuat warga geram. Bagaimana tidak, jalan yang dikeluhkan adalah jalan satu-satunya yang mereka miliki, bukan sekadar jalan alternatif.
Warga mempertanyakan, apakah pantas seorang anak pejabat berbicara demikian semena-mena, tanpa memahami penderitaan rakyat kecil yang setiap hari harus bertaruh nyawa di jalan tersebut?
Kondisi jalan yang rusak parah di kawasan Pasiranjaya, Denteteladas, Tulangbawang ternyata sangat berdampak buruk bagi dunia pendidikan.
Pasalnya, jalan tersebut merupakan satu-satunya akses utama yang digunakan oleh ribuan pelajar setempat.
Setiap hari, ratusan anak-anak terpaksa melewati jalan yang tidak layak ini untuk menuntut ilmu, mulai dari tingkat SD, SMP, hingga SMA/SMK.
Tanpa adanya perbaikan, keselamatan dan kenyamanan belajar anak-anak menjadi taruhan. Warga berharap pemerintah segera bertindak, demi masa depan generasi penerus bangsa yang tidak terhambat hanya karena masalah infrastruktur.
Fakta di lapangan sangat jauh dari kata layak. Jalan di kawasan Pasiranjaya, Denteladas, Tulangbawang, dikabarkan kondisinya sangat rusak parah dan berlubang-lubang.
Yang membuat kondisi ini semakin menyedihkan, jalan tersebut sudah hampir 18 tahun tidak pernah diperbaiki oleh pemerintah desa maupun provinsi.
Padahal, jalan ini merupakan urat nadi kehidupan masyarakat setempat. Ini adalah satu-satunya akses utama untuk keluar-masuk, mengangkut hasil panen, membawa anak berobat, hingga keperluan ekonomi warga sehari-hari. Tidak ada “jalan lain” yang lebih oke seperti yang ia katakan, karena ini adalah jalan satu-satunya.
Warga menuntut agar pihak terkait segera bertindak. Mereka merasa dilecehkan oleh sikap arogan tersebut.
Jika benar yang berkomentar adalah anak pejabat, ini menunjukkan betapa minimnya empati dan kepedulian terhadap nasib rakyat yang seharusnya dilayani. Daripada menyuruh warga diam dan cari jalan lain, seharusnya justru pihak keluarga yang bersangkutan turun tangan memperjuangkan perbaikan jalan tersebut.
Hingga saat ini, warga masih menantikan tanggapan resmi dan tindakan nyata untuk perbaikan jalan yang sudah terlalu lama ditinggalkan ini.









