TULANGBAWANG – Mediaintelijen.id – Media sosial kembali dihebohkan dengan aksi protes yang sangat menyayat hati dan memilukan. Seorang wanita warga Desa Pasiranjaya, Kecamatan Denteteladas, Kabupaten Tulangbawang, Lampung, nekat melakukan aksi berguling-guling di jalan yang penuh lumpur demi menyuarakan aspirasinya. Kamis 9 April 2026
Video yang diunggah oleh akun Facebook Siti Masruroh ini menjadi bukti nyata betapa buruknya kondisi infrastruktur di wilayah tersebut yang hingga kini tak kunjung diperbaiki oleh pihak berwenang.
Dalam rekaman video yang beredar, terlihat jelas kondisi jalan yang sangat memprihatinkan. Jalan utama yang menjadi urat nadi kehidupan warga tersebut tidak beraspal, becek, dan penuh genangan lumpur tebal.
Untuk menunjukkan betapa sulitnya akses yang mereka hadapi setiap hari dan agar pemerintah “terbangun” dari tidurnya, sang wanita melakukan aksi ekstrem dengan berguling-guling di atas tanah kotor tersebut.
Aksi ini bukan sekadar main-main, melainkan merupakan ungkapan kekesalan dan keputusasaan yang sudah memuncak. Warga merasa suaranya tidak didengar, sehingga cara inilah yang ditempuh agar permasalahan mereka mendapatkan perhatian luas.
Yang membuat publik semakin geram dan meledak amarahnya adalah beredarnya tangkapan layar komentar yang diduga ditulis oleh anak Kepala Desa Pasiranjaya.
Alih-alih memahami kesulitan warga atau berniat memperbaiki keadaan, sosok tersebut justru menanggapi keluhan masyarakat dengan nada yang sangat kasar, sinis, dan sangat tidak sopan.
Kalimat yang dilontarkannya dinilai sangat menyakitkan hati dan menunjukkan kurangnya empati serta etika sebagai pelayan masyarakat. Komentar tersebut seolah menutup telinga terhadap penderitaan warga yang sudah lama menanti perbaikan jalan.
Unggahan ini pun langsung membanjiri kolom komentar dengan berbagai reaksi kecewa dari netizen. Banyak yang menilai bahwa sikap seperti itulah yang membuat desa tidak kunjung maju.
Masyarakat berhak mendapatkan jalan yang layak untuk dilalui, dan tugas pemerintah adalah menyediakannya, bukan malah membalas keluhan dengan kata-kata yang menyakitkan.
Kasus ini kembali menjadi pelajaran keras bahwa pelayanan publik harus diiringi dengan akhlak yang baik. Jangan sampai jalan yang rusak diperparah dengan sikap dan tutur kata yang rusak pula dari pihak yang seharusnya mengayomi rakyat.
Penulis : Marfana
Editor : Arjun









