KAMPUNG SUNGAI BURUNG – PERMATA PESISIR TIMUR TULANG BAWANG YANG DILINDUNGI HUTAN MANGROVE DAN KEKAYAAN LAUT MELIMPAH

- Penulis

Senin, 18 Mei 2026 - 13:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LAMPUNG, Mediaintelijen.id – 18 MEI 2026 – Di ujung pesisir timur Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung, terbentang sebuah perkampungan unik yang memiliki keindahan alam sekaligus potensi ekonomi yang sangat besar. Namanya adalah Kampung Sungai Burung, yang masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Dente‑Teladas. Keunikan utama kampung ini adalah lokasinya yang sepenuhnya dikelilingi oleh hamparan luas hutan bakau atau yang sering disebut warga setempat sebagai mangrup. Hutan ini bukan hanya menjadi pemandangan yang menyejukkan mata, melainkan menjadi benteng alami paling utama yang menjaga keberlangsungan hidup seluruh penghuni kampung ini dari berbagai ancaman alam.

Kampung Sungai Burung sejatinya adalah sebuah perkampungan nelayan asli yang telah berdiri puluhan tahun lamanya, dan seluruh aspek kehidupan warganya sejak dulu hingga kini tidak pernah lepas dari keberadaan laut. Hampir seluruh penduduk di sini menggantungkan hidup dan mata pencahariannya dari apa yang dihasilkan oleh perairan di sekitarnya. Laut di kawasan ini dikenal sangat subur dan menjadi habitat alami berbagai jenis biota laut yang bernilai ekonomi tinggi. Di antaranya yang paling utama dan menjadi tulang punggung perekonomian warga adalah rajungan, kerang bulu, kerang kampak, kerang dara, di samping berbagai jenis ikan konsumsi dan udang yang selalu melimpah sepanjang tahun.

Pola kehidupan nelayan di sini sangat bergantung pada perubahan musim, yang membuat mereka harus cerdik dan pandai beradaptasi demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Ketika tiba saatnya musim rajungan berakhir dan hasil tangkapan jenis ini mulai berkurang atau sulit ditemukan, para nelayan tidak tinggal diam. Mereka secara otomatis akan mengubah dan menyesuaikan jenis alat tangkap yang digunakan, beralih mencari jenis biota laut lain yang sedang melimpah di perairan tersebut agar pendapatan tetap stabil dan kebutuhan sehari‑hari tetap dapat terpenuhi. Selain itu, sebagian warga juga telah mengembangkan usaha budi daya, di mana salah satu yang paling sukses dan terus berkembang adalah budi daya kerang dara yang kini menjadi andalan baru selain hasil tangkapan alam.

Sebagai contoh, pada tahun 2026 ini terjadi perubahan pola hasil tangkapan yang cukup signifikan. Jika di tahun‑tahun sebelumnya rajungan menjadi hasil terbanyak, tahun ini hasil tangkapan rajungan justru mengalami penurunan yang cukup tajam. Namun, kekhawatiran warga sirna seketika karena alam memberikan ganti yang jauh lebih melimpah. Hasil tangkapan kerang bulu melonjak drastis hingga mencapai angka ratusan ton dalam waktu singkat, dan ini menjadi berkah tersendiri bagi seluruh warga. Seluruh hasil tangkapan kerang bulu ini kemudian diproses dan diolah langsung di Kampung Sungai Burung, sehingga memberikan dampak ekonomi berganda karena membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga setempat.

Menariknya, tenaga kerja yang mengerjakan proses pengolahan ini mayoritas adalah ibu‑ibu rumah tangga di Kampung Sungai Burung. Hal ini sangat membantu meningkatkan pendapatan keluarga, di mana ibu‑ibu yang biasanya hanya mengurus rumah kini memiliki penghasilan sendiri yang cukup lumayan. Sistem pembayaran yang berlaku di sini dihitung berdasarkan berat hasil yang dikerjakan, yaitu sebesar Rp7.000 per kilogram hasil yang sudah selesai diolah atau dipilah. Dengan hasil yang mencapai ratusan ton, maka pendapatan yang beredar di masyarakat menjadi sangat besar dan membawa dampak positif bagi kesejahteraan ekonomi warga secara keseluruhan.

Selain kerang bulu, budi daya kerang dara juga terus berkembang pesat di sini. Untuk kegiatan ini, bibit kerang dara yang berkualitas didatangkan langsung dari Kota Palembang, Sumatera Selatan, dalam jumlah yang sangat besar dan terus bertambah setiap tahunnya, bahkan mencapai ratusan ton setiap kali pengiriman tiba. Dengan adanya kegiatan budi daya ini, terjadi pergeseran mata pencaharian yang positif: para nelayan yang tidak melaut atau tidak memiliki alat tangkap yang cukup kini beralih fungsi menjadi tim panen dan petambak kerang, sehingga tidak ada warga yang menganggur dan semua memiliki kesempatan berkarya sesuai kemampuannya.

Untuk jenis kerang kampak yang juga menjadi komoditas unggulan di sini, pola kerjanya sedikit berbeda. Sebagian besar nelayan yang menangkap kerang kampak memang berasal dari luar daerah, terutama banyak yang datang dari Pulau Jawa karena memiliki keahlian dan pengalaman khusus dalam menangkap jenis kerang ini. Namun, meskipun penangkapnya dari luar, proses pengolahan dan tenaga kerja pendukungnya tetap melibatkan warga lokal. Pekerja yang terlibat di sini ada yang berasal dari warga asli Sungai Burung, namun juga ada yang datang dari desa‑desa tetangga, sehingga kegiatan ini menjadi pengikat hubungan silaturahmi dan kerja sama antarwilayah.

Baca Juga:  SAKIT YANG TAK TERBILANGKAN! 12 Tahun Rumah Tangga Harmonis, Suami Dikhianati, Istri Bawa Selingkuhan Masuk ke Rumah Sendiri

Salah satu aset paling berharga yang dimiliki Kampung Sungai Burung adalah keberadaan hutan mangrove atau yang disebut warga sebagai mangrup. Hutan ini membentang panjang mengikuti sepanjang garis pantai dan mengelilingi seluruh wilayah kampung, seolah menjadi tembok pelindung yang tidak bisa digantikan oleh apa pun. Fungsi hutan mangrove di sini sangat vital dan memiliki peran ganda yang tidak ternilai harganya.

Pertama dan yang paling utama, hutan mangrove berfungsi sebagai benteng pertahanan alami yang sangat kuat. Pohon‑pohon mangrove dengan akar‑akarnya yang rapat dan kokoh memiliki kemampuan luar biasa dalam memecah gelombang laut dan menahan terjangan ombak besar sebelum mencapai pemukiman warga. Berkat keberadaan hutan ini, Kampung Sungai Burung aman dari bahaya abrasi pantai yang kini menjadi masalah serius di banyak daerah pesisir lainnya, serta terlindungi dari dampak buruk saat terjadi pasang air laut tinggi maupun gelombang badai. Jika tidak ada hutan mangrove ini, kemungkinan besar pemukiman warga sudah lama tergerus air laut dan tidak bisa lagi dihuni.

Kedua, hutan mangrove menjadi rumah dan tempat berkembang biak yang sempurna bagi berbagai jenis biota laut. Akar‑akar pohonnya menjadi tempat berlindung ikan‑ikan kecil, udang, dan berbagai jenis kerang dari pemangsa, sehingga menjaga kelestarian populasi mereka dan membuat hasil laut di kawasan ini selalu melimpah sepanjang waktu. Jadi, dapat dikatakan bahwa kekayaan laut yang menjadi sumber penghidupan warga Sungai Burung tidak akan ada atau tidak seberlimpah sekarang jika tidak ada hutan mangrove yang sehat dan terjaga ini.

Menyadari betapa pentingnya keberadaan laut dan hutan mangrove bagi kelangsungan hidup seluruh warga, maka dibentuklah Kelompok Masyarakat Pengawas Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup atau disingkat POKMASWAS MEGA BUANA. Kelompok ini beranggotakan warga asli Sungai Burung yang memiliki kepedulian tinggi dan rasa tanggung jawab besar untuk melindungi apa yang menjadi sumber kehidupan mereka bersama.

Tugas utama POKMASWAS MEGA BUANA adalah mengawasi seluruh aktivitas yang berlangsung di laut dan di kawasan hutan mangrove, memastikan semuanya berjalan sesuai dengan aturan dan ketentuan hukum yang berlaku. Kelompok ini siap bertindak tegas dan tidak segan‑segan melaporkan serta mencegah segala bentuk tindakan yang melanggar hukum, merusak lingkungan, atau merugikan sumber daya alam yang ada. Baik itu praktik penangkapan ikan dengan cara yang merusak, penebangan pohon mangrove secara liar, maupun kegiatan lain yang berpotensi merusak kelestarian alam, semuanya menjadi fokus pengawasan mereka demi masa depan anak cucu nanti.

Selama berdiri dan menjalankan tugas, POKMASWAS MEGA BUANA telah banyak mendapatkan dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak. Atas nama seluruh anggota dan warga yang diwakilinya, POKMASWAS MEGA BUANA menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar‑besarnya kepada IDF dan MITRA BENTALA. Kedua pihak ini telah menjadi mitra dan pendamping setia yang selalu ada, memberikan berbagai ilmu pengetahuan, keterampilan, serta pengetahuan hukum yang sangat berguna. Berkat bimbingan mereka, apa yang dulunya tidak diketahui dan tidak dipahami oleh warga kini menjadi jelas dan dipahami sepenuhnya, sehingga warga semakin sadar akan hak, kewajiban, dan cara menjaga kekayaan alam ini dengan benar.

Pengetahuan yang didapatkan tidak hanya digunakan untuk menjalankan tugas pengawasan, namun juga dibagikan kepada seluruh warga lain agar kesadaran menjaga alam semakin menyebar luas. Dengan bekal ilmu dan kesadaran yang tinggi ini, POKMASWAS MEGA BUANA terus berkomitmen dan berjanji akan terus menjaga laut dan hutan mangrove dengan sebaik‑baiknya, sekuat tenaga, dan sepanjang masa demi kesejahteraan bersama dan kelangsungan hidup generasi mendatang.

Demikian laporan ini disusun sebagai gambaran lengkap mengenai potensi, kehidupan masyarakat, serta upaya pelestarian yang dilakukan di Kampung Sungai Burung, Kecamatan Dente‑Teladas, Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung. Kampung ini menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat bisa hidup selaras dengan alam, memanfaatkan kekayaan alamnya dengan bijak, sekaligus melindunginya dengan penuh tanggung jawab.

#KampungSungaiBurung #DenteTeladas #TulangBawang #Lampung #HutanMangrove #KekayaanLaut #PokmaswasMegaBuana #PelestarianAlam #MasyarakatPesisir #BeritaDaerah

Penulis : Rudy Renaldi

Editor : Marfana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel mediaintelijen.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

SOLIDARITAS TINGGI WARGA PASIRANJAYA: GOTONG ROYONG DAN DONASI BERSAMA PERBAIKI JALAN HASAN BULAN, DUKUNGAN PENUH DARI KAPOLSEK DAN KADES
Polsek Denteteladas Berhasil Tangkap Dua Pelaku Penipuan Bansos dan Pengelapan, Satu Tersangka Berhasil Dijebak dan Diamankan di Pringsewu
Pemilihan BPD Desa Muktiwari Berlangsung Meriah, Sadam Husein Raih Suara Tertinggi
DUA MEDIA ONLINE DILAPORKAN KE POLDA METRO JAYA, PADAHAL PERMASALAHAN DINILAI SUDAH SELESAI DI DEWAN PERS
KASUS PEMBUNUHAN SATU KELUARGA HAJI SAHRONI INDRAMAYU: MISTERI AMAN YANI, SOSOK YANG DISEBUT OTAK PELAKSANA TAPI SUDAH HILANG SEJAK 2016
TERIMA KASIH BAPAK KAPOLSEK: SAAT MOTOR RUSAK DI TENGAH LAHAN TEBU, BANTUAN DATANG DARI SOSOK YANG SELALU ADA UNTUK RAKYAT
REMAJA AUTISME HILANG DI TAJURHALANG BOGOR, KELUARGA MEMOHON BANTUAN INFORMASI DARI MASYARAKAT
RAMAI DIBICARAKAN: MOBIL BERKAPASITAS DI ATAS 1.400 CC TIDAK BISA BELI PERTALITE MULAI 1 JUNI 2026? INI PENJELASAN RESMI DARI PERTAMINA DAN RENCANA PEMERINTAH
Berita ini 35 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 24 Mei 2026 - 10:49 WIB

SOLIDARITAS TINGGI WARGA PASIRANJAYA: GOTONG ROYONG DAN DONASI BERSAMA PERBAIKI JALAN HASAN BULAN, DUKUNGAN PENUH DARI KAPOLSEK DAN KADES

Minggu, 24 Mei 2026 - 04:25 WIB

Polsek Denteteladas Berhasil Tangkap Dua Pelaku Penipuan Bansos dan Pengelapan, Satu Tersangka Berhasil Dijebak dan Diamankan di Pringsewu

Minggu, 24 Mei 2026 - 02:24 WIB

Pemilihan BPD Desa Muktiwari Berlangsung Meriah, Sadam Husein Raih Suara Tertinggi

Sabtu, 23 Mei 2026 - 02:18 WIB

DUA MEDIA ONLINE DILAPORKAN KE POLDA METRO JAYA, PADAHAL PERMASALAHAN DINILAI SUDAH SELESAI DI DEWAN PERS

Sabtu, 23 Mei 2026 - 02:06 WIB

KASUS PEMBUNUHAN SATU KELUARGA HAJI SAHRONI INDRAMAYU: MISTERI AMAN YANI, SOSOK YANG DISEBUT OTAK PELAKSANA TAPI SUDAH HILANG SEJAK 2016

Berita Terbaru