JAKARTA – Mediaintelijen.id – Suasana peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day yang digelar di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, pada Jumat (1/5/2026), sempat menjadi sorotan tajam dan menjadi bahan perbincangan hangat usai terjadinya momen tak terduga.
Saat Presiden Prabowo Subianto turun ke tengah massa dan melakukan dialog langsung dengan ribuan buruh yang hadir, terjadi interaksi yang sangat jujur dan mencerminkan realitas di lapangan.
Dalam sesi tanya jawab yang berlangsung santai namun penuh makna, Prabowo mencoba menyinggung salah satu program unggulan pemerintahannya yang saat ini sedang gencar dilakukan, yaitu program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dengan nada akrab, Presiden melontarkan pertanyaan langsung kepada ribuan buruh yang memenuhi area tersebut:
“Saya tanya ke saudara-saudara, MBG itu bermanfaat atau tidak?”
Pertanyaan tersebut diajukan dengan harapan mendapatkan tanggapan positif. Namun, apa yang terjadi justru di luar dugaan. Alih-alih terdengar suara “bermanfaat” atau tepuk tangan meriah, ribuan suara massa serentak terdengar lantang dan kompak menjawab:
“TIDAK!!!!”
Jawaban spontan, keras, dan serempak itu seketika membuat suasana menjadi hening sejenak. Prabowo Subianto pun terlihat diam terpaku atau terdiam, seolah sedang mencerna dengan serius aspirasi pedas yang baru saja disampaikan langsung oleh rakyat di hadapannya.
Momen ini menjadi bukti nyata adanya kesenjangan yang cukup jauh antara harapan serta ekspektasi dari kebijakan yang dibuat oleh pemerintah, dengan realitas yang sebenarnya dirasakan oleh masyarakat di lapangan.
Meski mendapat respons yang mengejutkan dan di luar ekspektasi, Presiden Prabowo Subianto tetap tampil tenang dan melanjutkan pidatonya. Ia kembali menegaskan maksud dan tujuan utama dari digulirkannya program Makan Bergizi Gratis tersebut.
Menurut Prabowo, program ini dirancang bukan hanya sekadar memberikan makanan gratis kepada masyarakat. Lebih dari itu, program ini memiliki misi besar untuk memastikan generasi muda Indonesia mendapatkan asupan gizi yang cukup dan seimbang.
“MBG itu sangat penting untuk anak-anak kita. Banyak yang masih kurang gizi, badannya kecil. Selain itu, dengan adanya program ini ekonomi juga ikut bergerak, petani dan nelayan bisa mendapatkan penghasilan,” ujar Prabowo menjelaskan.
Ia menekankan bahwa tujuan utamanya adalah untuk mencegah stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia agar bisa bersaing di masa depan.
Jawaban tegas “TIDAK” yang dilontarkan oleh para buruh ini langsung menjadi viral di berbagai platform media sosial. Video momen tersebut banyak dibagikan ulang dan menjadi bahan diskusi luas di kalangan netizen.
Banyak yang menilai bahwa respons spontan tersebut mencerminkan adanya ketidakpuasan masyarakat, atau mungkin karena mereka belum merasakan manfaat secara langsung dari program yang menyerap anggaran triliunan rupiah tersebut.
Ada pula yang berpendapat bahwa mungkin ada kendala dalam distribusi, kualitas makanan, atau sasaran penerima yang belum tepat sasaran, sehingga membuat sebagian masyarakat merasa program ini belum memberikan dampak positif bagi mereka.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi seluruh jajaran pemerintah bahwa setiap kebijakan yang dibuat perlu terus dievaluasi, diawasi, dan disesuaikan dengan kebutuhan riil masyarakat.
Tujuan mulia saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan pelaksanaan yang baik dan penerimaan yang positif dari rakyat. Harapannya, momen ini bisa menjadi masukan berharga agar program MBG ke depannya dapat benar-benar dirasakan manfaatnya oleh semua kalangan.











